Monitoring dan Evaluasi Implementasi RME Satusehat Klinik dan TPMD/TPMDG di Kabupaten Magelang

Kementerian Kesehatan telah menginisiasi transformasi kesehatan dengan salah satu pilar utamanya yaitu transformasi teknologi kesehatan. Implementasi kebijakan ini diwujudkan melalui Platform SatuSehat, yang menghubungkan seluruh pihak dalam ekosistem kesehatan, mulai dari rumah sakit, puskesmas, apotek, laboratorium, dinas kesehatan, hingga startup kesehatan. Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis setiap fasyankes wajib menerapakn RME yang terintegrasi SATUSEHAT.

Sebagai penguatan regulasi, Surat Edaran Dirjen Yankes Nomor HK.02.02/D/7093/2023 mewajibkan fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengintegrasikan rekam medis elektronik dengan Platform SatuSehat. Lebih lanjut, Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor HK.02.01/MENKES/1030/2023 menegaskan bahwa fasilitas kesehatan yang belum terintegrasi akan dikenakan sanksi berupa rekomendasi penyesuaian status akreditasi. Integrasi fasilitas kesehatan ke dalam SIKN menjadi kebutuhan mendesak untuk menjamin keseragaman data dan interoperabilitas antar sistem, memperkuat kebijakan berbasis bukti melalui data yang akurat dan real time, mendukung pencapaian standar pelayanan kesehatan nasional, serta mempermudah koordinasi lintas sektor dalam penanganan kesehatan masyarakat.

Berdasarkan data Dashboard SATUSEHAT Data tanggal 25 Juni 2026 baru 73,77 %  klinik (45 klinik) yang terintegrasi dengan SATUSEHAT dari total 61 klinik. Sedangkan capain tempat praktik mandiri (tpm) sebesar 48.39% (45 tpm) dari total 93 tpm.

Oleh karena itu, diperlukan fasilitasi dan pendampingan Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah guna meningkatkan jumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang mengirimkan data ke SATUSEHAT melalui kegiatan Pertemuan Desk dan fasilitasi penyelesaian kendala implementasi RME . Langkah ini diharapkan dapat memperluas cakupan pemantauan kesehatan masyarakat, memperkuat sistem informasi kesehatan nasional, serta mendukung terwujudnya transformasi digital kesehatan yang berkelanjutan

Kegiatan Bakti Sosial Operasi Katarak

Kegiatan Bakti Sosial Operasi Katarak berhasil dilaksanakan dengan lancar sebagai
bentuk kepedulian terhadap kesehatan mata masyarakat. Kegiatan ini diselenggarakan
melalui kerja sama berbagai pihak dalam rangka membantu masyarakat yang
mengalami gangguan penglihatan akibat katarak serta mendukung upaya penurunan
angka kebutaan.

Kegiatan ini dihadiri H. Wibowo Prasetyo, M.I.Kom, Anggota DPR RI Komisi VIII, Direktur Rehabilitasi Sosial
Lanjut Usia (Rehsos Lansia) Kementerian Sosial RI, Dr. Suratna, Kepala Sentra Antasena
Magelang, Bela Pinarsi, SH., MM, Asisten Pemerintahan dan Kesra dan didampingi oleh
Kepala Dinsos PPKB, PPPA M. Taufik, SH., MH, Kepala Dinas Kesehatan dr. Lies
Pramudiyanti, MM dan Direktur RSUD Muntilan dr. Yuniar, M.P.H, Ketua Dewan
Pengawas RSUD Muntilan, Perwakilan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia
(PERDAMI) di Jawa Tengah

Sejak pagi hari, para peserta yang telah melalui proses skrining dan pemeriksaan
kesehatan mata mengikuti tahapan operasi sesuai prosedur medis yang berlaku. Tim
dokter spesialis mata bersama tenaga kesehatan memberikan pelayanan secara
profesional dengan mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pasien.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang menyampaikan apresiasi kepada seluruh
pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, operasi
katarak merupakan salah satu langkah nyata dalam meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, khususnya bagi warga yang mengalami keterbatasan penglihatan akibat
katarak.
“ Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat yang sebelumnya mengalami gangguan
penglihatan dapat kembali beraktivitas dengan lebih baik, mandiri, dan produktif.
Kesehatan mata merupakan bagian penting dalam meningkatkan kualitas hidup
masyarakat,” ujarnya.
Para peserta operasi mengaku bersyukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Banyak di antara mereka yang telah lama mengalami penglihatan kabur sehingga
kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari. Dengan adanya operasi katarak ini, mereka
berharap dapat kembali melihat dengan lebih jelas dan menjalani kehidupan secara
lebih nyaman.
Kegiatan bakti sosial operasi katarak ini tidak hanya menjadi bentuk pelayanan
kesehatan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi wujud sinergi dan kepedulian
bersama dalam upaya menekan angka kebutaan akibat katarak. Diharapkan kegiatan
serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga semakin banyak
masyarakat yang memperoleh manfaat dan akses terhadap pelayanan kesehatan mata
yang berkualitas.
Dengan terlaksananya operasi katarak ini, diharapkan kualitas hidup para penerima
manfaat semakin meningkat, sekaligus mendukung terwujudnya masyarakat yang
sehat, mandiri, dan produktif.

ASEAN DENGUE DAY 2026: ASEAN BERSATU MENUJU NOL KEMATIAN AKIBAT DBD TAHUN 2030

Setiap tanggal 15 Juni, negara-negara anggota ASEAN memperingati ASEAN Dengue Day (Hari DBD ASEAN) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya Demam Berdarah Dengue (DBD) serta memperkuat upaya pencegahan dan pengendaliannya.

Pada tahun 2026, ASEAN mengusung tema:

“ASEAN United: Zero Dengue Deaths – A Future We Build Together by 2030”
“ASEAN Bersatu: Nol Kematian Akibat DBD – Masa Depan yang Kita Bangun Bersama Menuju Tahun 2030.”

Tema ini mencerminkan komitmen bersama negara-negara ASEAN untuk menurunkan angka kesakitan dan mewujudkan nol kematian akibat DBD melalui kolaborasi lintas sektor, inovasi, dan partisipasi aktif masyarakat.

DBD Masih Menjadi Ancaman Kesehatan Global

Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk yang paling banyak ditemukan di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 390 juta infeksi dengue setiap tahunnya. Dalam dua dekade terakhir, jumlah kasus dengue terus meningkat dan menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara.

Virus dengue ditularkan terutama oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Sebagian besar penderita mengalami gejala ringan, namun pada kondisi tertentu dapat berkembang menjadi dengue berat yang menyebabkan syok, perdarahan hebat, hingga kegagalan organ yang berpotensi menyebabkan kematian.

Mengapa Kasus DBD Terus Meningkat?

Peningkatan kasus dengue dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

  • Perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan suhu, curah hujan, dan kelembapan.
  • Perluasan habitat nyamuk penular dengue.
  • Urbanisasi dan pertumbuhan penduduk.
  • Mobilitas masyarakat yang semakin tinggi.
  • Masih adanya tempat perkembangbiakan nyamuk di lingkungan permukiman.
  • Belum optimalnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk.

Kondisi tersebut menuntut adanya penguatan surveilans, pengendalian vektor, serta keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat dalam pencegahan DBD.

Peran Masyarakat Sangat Menentukan

Keberhasilan pengendalian DBD tidak hanya bergantung pada sektor kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan seluruh lapisan masyarakat.

Masyarakat diharapkan terus menerapkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, yaitu:

1. Menguras

Membersihkan dan menguras tempat penampungan air secara rutin.

2. Menutup

Menutup rapat tempat penampungan air agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

3. Mendaur Ulang

Memanfaatkan kembali atau membuang barang bekas yang berpotensi menampung air.

Plus

  • Menggunakan obat anti nyamuk.
  • Memelihara kebersihan lingkungan.
  • Menggunakan kelambu atau kasa nyamuk.
  • Menanam tanaman pengusir nyamuk.
  • Menghindari gigitan nyamuk dengan pakaian yang sesuai.
  • Melakukan pemeriksaan jentik secara berkala.

Kenali Gejala DBD

Masyarakat perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami:

  • Demam tinggi mendadak selama 2–7 hari.
  • Sakit kepala hebat.
  • Nyeri otot dan sendi.
  • Mual dan muntah.
  • Muncul bintik merah pada kulit.
  • Mimisan atau perdarahan lainnya.
  • Lemas dan penurunan kesadaran.

Deteksi dini dan penanganan yang cepat dapat mencegah terjadinya komplikasi serta kematian akibat DBD.

Komitmen Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang

Dalam rangka memperingati ASEAN Dengue Day Tahun 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang mengajak seluruh masyarakat, pemerintah desa, sekolah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, serta seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat gerakan bersama dalam pencegahan dan pengendalian DBD.

Upaya yang terus didorong meliputi:

  • Penguatan surveilans dan kewaspadaan dini DBD.
  • Pelaksanaan Gerakan PSN 3M Plus secara rutin.
  • Peningkatan kapasitas kader kesehatan dan Jumantik.
  • Edukasi masyarakat secara berkelanjutan.
  • Penguatan kolaborasi lintas sektor.
  • Pemanfaatan inovasi dan teknologi dalam pengendalian DBD.

Bersama Wujudkan Magelang Bebas Kematian Akibat DBD

Peringatan ASEAN Dengue Day 2026 menjadi pengingat bahwa pencegahan DBD merupakan tanggung jawab bersama. Dengan meningkatkan kesadaran, memperkuat kolaborasi, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, kita dapat melindungi keluarga dan masyarakat dari ancaman DBD.

Mari bergerak bersama mewujudkan Kabupaten Magelang yang sehat, tangguh, dan bebas kematian akibat Demam Berdarah Dengue.

ASEAN Bersatu, Nol Kematian Akibat DBD 2030!

Dokumen Perencanaan Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang

Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang 2025-2029
Rencana Kerja (Renja) Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang 2026
Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKJIP) Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang 2025