Monitoring dan Evaluasi Implementasi RME Satusehat Klinik dan TPMD/TPMDG di Kabupaten Magelang

Kementerian Kesehatan telah menginisiasi transformasi kesehatan dengan salah satu pilar utamanya yaitu transformasi teknologi kesehatan. Implementasi kebijakan ini diwujudkan melalui Platform SatuSehat, yang menghubungkan seluruh pihak dalam ekosistem kesehatan, mulai dari rumah sakit, puskesmas, apotek, laboratorium, dinas kesehatan, hingga startup kesehatan. Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis setiap fasyankes wajib menerapakn RME yang terintegrasi SATUSEHAT.

Sebagai penguatan regulasi, Surat Edaran Dirjen Yankes Nomor HK.02.02/D/7093/2023 mewajibkan fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengintegrasikan rekam medis elektronik dengan Platform SatuSehat. Lebih lanjut, Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor HK.02.01/MENKES/1030/2023 menegaskan bahwa fasilitas kesehatan yang belum terintegrasi akan dikenakan sanksi berupa rekomendasi penyesuaian status akreditasi. Integrasi fasilitas kesehatan ke dalam SIKN menjadi kebutuhan mendesak untuk menjamin keseragaman data dan interoperabilitas antar sistem, memperkuat kebijakan berbasis bukti melalui data yang akurat dan real time, mendukung pencapaian standar pelayanan kesehatan nasional, serta mempermudah koordinasi lintas sektor dalam penanganan kesehatan masyarakat.

Berdasarkan data Dashboard SATUSEHAT Data tanggal 25 Juni 2026 baru 73,77 %  klinik (45 klinik) yang terintegrasi dengan SATUSEHAT dari total 61 klinik. Sedangkan capain tempat praktik mandiri (tpm) sebesar 48.39% (45 tpm) dari total 93 tpm.

Oleh karena itu, diperlukan fasilitasi dan pendampingan Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah guna meningkatkan jumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang mengirimkan data ke SATUSEHAT melalui kegiatan Pertemuan Desk dan fasilitasi penyelesaian kendala implementasi RME . Langkah ini diharapkan dapat memperluas cakupan pemantauan kesehatan masyarakat, memperkuat sistem informasi kesehatan nasional, serta mendukung terwujudnya transformasi digital kesehatan yang berkelanjutan

Kegiatan Bakti Sosial Operasi Katarak

Kegiatan Bakti Sosial Operasi Katarak berhasil dilaksanakan dengan lancar sebagai
bentuk kepedulian terhadap kesehatan mata masyarakat. Kegiatan ini diselenggarakan
melalui kerja sama berbagai pihak dalam rangka membantu masyarakat yang
mengalami gangguan penglihatan akibat katarak serta mendukung upaya penurunan
angka kebutaan.

Kegiatan ini dihadiri H. Wibowo Prasetyo, M.I.Kom, Anggota DPR RI Komisi VIII, Direktur Rehabilitasi Sosial
Lanjut Usia (Rehsos Lansia) Kementerian Sosial RI, Dr. Suratna, Kepala Sentra Antasena
Magelang, Bela Pinarsi, SH., MM, Asisten Pemerintahan dan Kesra dan didampingi oleh
Kepala Dinsos PPKB, PPPA M. Taufik, SH., MH, Kepala Dinas Kesehatan dr. Lies
Pramudiyanti, MM dan Direktur RSUD Muntilan dr. Yuniar, M.P.H, Ketua Dewan
Pengawas RSUD Muntilan, Perwakilan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia
(PERDAMI) di Jawa Tengah

Sejak pagi hari, para peserta yang telah melalui proses skrining dan pemeriksaan
kesehatan mata mengikuti tahapan operasi sesuai prosedur medis yang berlaku. Tim
dokter spesialis mata bersama tenaga kesehatan memberikan pelayanan secara
profesional dengan mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pasien.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang menyampaikan apresiasi kepada seluruh
pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, operasi
katarak merupakan salah satu langkah nyata dalam meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, khususnya bagi warga yang mengalami keterbatasan penglihatan akibat
katarak.
“ Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat yang sebelumnya mengalami gangguan
penglihatan dapat kembali beraktivitas dengan lebih baik, mandiri, dan produktif.
Kesehatan mata merupakan bagian penting dalam meningkatkan kualitas hidup
masyarakat,” ujarnya.
Para peserta operasi mengaku bersyukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Banyak di antara mereka yang telah lama mengalami penglihatan kabur sehingga
kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari. Dengan adanya operasi katarak ini, mereka
berharap dapat kembali melihat dengan lebih jelas dan menjalani kehidupan secara
lebih nyaman.
Kegiatan bakti sosial operasi katarak ini tidak hanya menjadi bentuk pelayanan
kesehatan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi wujud sinergi dan kepedulian
bersama dalam upaya menekan angka kebutaan akibat katarak. Diharapkan kegiatan
serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga semakin banyak
masyarakat yang memperoleh manfaat dan akses terhadap pelayanan kesehatan mata
yang berkualitas.
Dengan terlaksananya operasi katarak ini, diharapkan kualitas hidup para penerima
manfaat semakin meningkat, sekaligus mendukung terwujudnya masyarakat yang
sehat, mandiri, dan produktif.

ASEAN DENGUE DAY 2026: ASEAN BERSATU MENUJU NOL KEMATIAN AKIBAT DBD TAHUN 2030

Setiap tanggal 15 Juni, negara-negara anggota ASEAN memperingati ASEAN Dengue Day (Hari DBD ASEAN) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya Demam Berdarah Dengue (DBD) serta memperkuat upaya pencegahan dan pengendaliannya.

Pada tahun 2026, ASEAN mengusung tema:

“ASEAN United: Zero Dengue Deaths – A Future We Build Together by 2030”
“ASEAN Bersatu: Nol Kematian Akibat DBD – Masa Depan yang Kita Bangun Bersama Menuju Tahun 2030.”

Tema ini mencerminkan komitmen bersama negara-negara ASEAN untuk menurunkan angka kesakitan dan mewujudkan nol kematian akibat DBD melalui kolaborasi lintas sektor, inovasi, dan partisipasi aktif masyarakat.

DBD Masih Menjadi Ancaman Kesehatan Global

Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk yang paling banyak ditemukan di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 390 juta infeksi dengue setiap tahunnya. Dalam dua dekade terakhir, jumlah kasus dengue terus meningkat dan menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara.

Virus dengue ditularkan terutama oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Sebagian besar penderita mengalami gejala ringan, namun pada kondisi tertentu dapat berkembang menjadi dengue berat yang menyebabkan syok, perdarahan hebat, hingga kegagalan organ yang berpotensi menyebabkan kematian.

Mengapa Kasus DBD Terus Meningkat?

Peningkatan kasus dengue dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

  • Perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan suhu, curah hujan, dan kelembapan.
  • Perluasan habitat nyamuk penular dengue.
  • Urbanisasi dan pertumbuhan penduduk.
  • Mobilitas masyarakat yang semakin tinggi.
  • Masih adanya tempat perkembangbiakan nyamuk di lingkungan permukiman.
  • Belum optimalnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk.

Kondisi tersebut menuntut adanya penguatan surveilans, pengendalian vektor, serta keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat dalam pencegahan DBD.

Peran Masyarakat Sangat Menentukan

Keberhasilan pengendalian DBD tidak hanya bergantung pada sektor kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan seluruh lapisan masyarakat.

Masyarakat diharapkan terus menerapkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, yaitu:

1. Menguras

Membersihkan dan menguras tempat penampungan air secara rutin.

2. Menutup

Menutup rapat tempat penampungan air agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

3. Mendaur Ulang

Memanfaatkan kembali atau membuang barang bekas yang berpotensi menampung air.

Plus

  • Menggunakan obat anti nyamuk.
  • Memelihara kebersihan lingkungan.
  • Menggunakan kelambu atau kasa nyamuk.
  • Menanam tanaman pengusir nyamuk.
  • Menghindari gigitan nyamuk dengan pakaian yang sesuai.
  • Melakukan pemeriksaan jentik secara berkala.

Kenali Gejala DBD

Masyarakat perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami:

  • Demam tinggi mendadak selama 2–7 hari.
  • Sakit kepala hebat.
  • Nyeri otot dan sendi.
  • Mual dan muntah.
  • Muncul bintik merah pada kulit.
  • Mimisan atau perdarahan lainnya.
  • Lemas dan penurunan kesadaran.

Deteksi dini dan penanganan yang cepat dapat mencegah terjadinya komplikasi serta kematian akibat DBD.

Komitmen Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang

Dalam rangka memperingati ASEAN Dengue Day Tahun 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang mengajak seluruh masyarakat, pemerintah desa, sekolah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, serta seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat gerakan bersama dalam pencegahan dan pengendalian DBD.

Upaya yang terus didorong meliputi:

  • Penguatan surveilans dan kewaspadaan dini DBD.
  • Pelaksanaan Gerakan PSN 3M Plus secara rutin.
  • Peningkatan kapasitas kader kesehatan dan Jumantik.
  • Edukasi masyarakat secara berkelanjutan.
  • Penguatan kolaborasi lintas sektor.
  • Pemanfaatan inovasi dan teknologi dalam pengendalian DBD.

Bersama Wujudkan Magelang Bebas Kematian Akibat DBD

Peringatan ASEAN Dengue Day 2026 menjadi pengingat bahwa pencegahan DBD merupakan tanggung jawab bersama. Dengan meningkatkan kesadaran, memperkuat kolaborasi, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, kita dapat melindungi keluarga dan masyarakat dari ancaman DBD.

Mari bergerak bersama mewujudkan Kabupaten Magelang yang sehat, tangguh, dan bebas kematian akibat Demam Berdarah Dengue.

ASEAN Bersatu, Nol Kematian Akibat DBD 2030!

Sosialisasi Ca Cervix dan Pemberian Imunisasi Kejar HPV Pada Santri Pondok I’anatul Mujtahidin Kecamatan Tegalrejo Kabupaten Magelang

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan rekomendasi penting kepada negara-negara untuk memasukkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) ke dalam program imunisasi nasional. Vaksin HPV bertujuan untuk mengurangi risiko terinfeksi kanker Leher Rahim atau Serviks, yang merupakan kanker tertinggi kedua setelah kanker payudara pada perempuan. Adapun tujuan dari program vaksinasi ini adalah mencapai cakupan sebanyak 90% pada anak perempuan usia 15 tahun di tahun 2030. Pencapaian ini akan menjadi tonggak penting dalam upaya pencegahan kanker leher rahim, yang merupakan ancaman kesehatan serius pada perempuan.
Vaksin HPV merupakan vaksin yang diberikan untuk melindungi perempuan dari risiko terinfeksi virus HPV (Human Papillomavirus) sejak dini, penyebab utama kanker leher rahim atau serviks. Namun, pemberian vaksin saja tidak cukup, jika tidak disertai dengan edukasi perilaku serta informasi yang komprehensif mengenai skrining, diagnosis, dan tata laksana penyakit ini. Pendekatan ini membantu membangun pemahaman yang lebih baik tentang pencegahan dan penanganan kanker leher rahim. Dengan tujuan menurunkan angka kanker leher rahim menjadi 4 per 100.000 penduduk per tahun pada tahun 2030, sasaran utama program ini adalah anak perempuan berusia 9-14 tahun. Cakupan program imunisasi HPV yang luas akan menjadi kunci keberhasilan dalam upaya mengurangi beban penyakit, serta melindungi generasi mendatang dari risiko masalah kesehatan serius.
Kementerian Kesehatan merekomendasikan vaksin HPV diberikan pada anak perempuan mulai usia 9 tahun dengan dosis sebagai berikut : Satu atau dua dosis dalam selang waktu 6-12 bulan bagi anak usia 9-14 tahun dan Satu atau dua dosis dalam selang waktu 6 bulan bagi remaja usia 15-20 tahun. Kebijakan dan strategi pelaksanaan pemberian vaksin HPV menyediakan layanan yang merata. Program ini dilaksanakan tahunan dengan melibatkan berbagai tingkat pelaksanaan, mulai dari pusat hingga pelaksana lapangan, di bawah koordinasi Tim Pembina Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (TP UKS/M) melalui kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Pemberian vaksin HPV tidak terbatas hanya bagi anak-anak yang bersekolah di lembaga pendidikan formal, tapi juga anak-anak yang tidak bersekolah atau putus sekolah. Program ini berupaya menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang rentan melalui posyandu, puskesmas, dan tempat berkumpulnya anak-anak. Salah satu sasaran anak tidak sekolah akan tetapi sedang melaksanakan kegiatan pembelajaran keagamaan melalui lembaga pendidikan non formal di Kabupaten Magelang adalah santri pondok pesantren. Sebanyak 13 anak usia 12 tahun atau setara kelas 6 dan 74 anak usia 15 tahun atau setara kelas 9 telah diberikan Imunisasi Kejar HPV. Mari kita sukeskan pencegahan Kanker Leher Rahim atau Serviks sejak dini.

Pertemuan Evaluasi Monitoring Cakupan Imunisasi Rutin dan Antigen Baru untuk Pencegahan Zero Dose dan Peningkatan Cakupan Imunisasi di Kabupaten Magelang

Anak Zero Dose didefinisikan sebagai anak yang tidak mendapatkan imunisasi rutin yang jumlahnya diperkirakan berdasarkan selisih cakupan imunisasi DPT1 dengan jumlah sasaran. Pada tahun 2024, tercatat terdapat 973.378 anak zero dose di Indonesia dan Provinsi Jawa Tengah berkontribusi sebanyak 40.863 anak (Data Kombinasi ASIK dan Manual 2024). Cakupan imunisasi hingga bulan Agustus 2025 belum mencapai target imunisasi rutin (66%) dan antigen baru (64%), dimana cakupan DPT1 baru mencapai 34%, imunisasi dasar lengkap (IDL) berjumlah 42%. Pada indikator antigen baru, PCV2 baru mencapai 35,47% dan RV3 sebesar 27,29%. Hal ini menggambarkan potensi kenaikan jumlah anak Zero Dose tahun 2025.
Berdasarkan laporan ASIK hingga Agustus 2025, jumlah anak zero dose yang mendapatkan imunisasi kejar di Kabupaten Magelang sebanyak 6 anak (0.38%), oleh karena itu diperlukan pendekatan lain sebagai strategi untuk menurunkan jumlah anak Zero Dose.
CHAI (Clinton Health Access Initiative) mendukung Kementerian Kesehatan pada progam imunisasi khususnya penurunan angka zero dose dan peningkatan cakupan antigen baru. Bentuk dukungan CHAI diantaranya adalah memfasilitasi evaluasi cakupan imunisasi, review ketersediaan vaksin dan logistik imunisasi. Tujuan kegiatan ini adalah

  1. Mengevaluasi cakupan imunisasi rutin, antigen baru dan pasokan logistik tahun 2025.
  2. Menganalisa tantangan dan pembelajaran dalam pelaksanaan imunisasi antigen baru dan menyusun strategi peningkatkan cakupan imunisasi tahun 2025.
    Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 21 Oktober 2025 dengan peserta Koordinator Imunisasi Puskesmas dan Petugas Administrasi Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK) Puskesmas.
    Rencana tindak lanjut pertemuan ini adalah :
  3. Memvalidasi cakupan hasil pelayanan imunisasi Januari – Oktober 2025 bersama dengan bidan desa/vaksinator kemudian melaporkan hasil validasi, selambatnya sebelum pertemuan evaluasi yang akan dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang.
  4. Bersama PJ ASIK menyampaikan feedback input ASIK per desa terhadap antigen yang belum lengkap (Ringkasan Bayi & Baduta pada Tabel Bantu) dan menyampaikan kepada masing-masing bidan desa/penanggung jawab/vaksinator.
  5. Melakukan monitoring penginputan ASIK. Memastikan penginputan menyertakan NIK atau Pos imunisasi baik melalui imunisasi rutin atau riwayat.
  6. Korim mengagendakan imunisasi kejar berdasarkan hasil identifikasi anak yang belum imunisasi dari tabel bantu ASIK.
  7. Membuat catatan khusus untuk cakupan luar wilayah dan faskes swasta
  8. Melaporkan semua hasil pelayanan imunisasi (termasuk sasaran luar wilayah) dan secara kumulatif pelaporan data manual Kemenkes setiap bulan.
  9. Kordinator Imunisasi melakukan update mikroplaning paling tidak 3 bulan sekali dengan melibatkan lintas program.

Penyuluhan Kesehatan Jiwa dan Cek Kesehatan Gratis di SMP K SANTA MARIA SAWANGAN

MAGELANG – Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa tentang Kesehatan Jiwa dan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesmas) bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang dan Puskesmas Sawangan I mengadakan kegiatan Penyuluhan kesehatan Jiwa dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di SMPK Santa Maria, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

Kegiatan dilaksanakan di ruang aula SMPK Santa Maria Sawangan yang berlangsung pada hari Jumat tanggal 12 September 2025 pada pukul 08.00-10.00 WIB. Pelaksanaan kegiatan mencakup penyuluhan kesehatan Jiwa yang bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental,

mengetahui tanda-tanda gangguan jiwa, dan cara mencari pertolongan saat menghadapi masalah kesehatan mental. Selain penyuluhan kesehatan jiwa juga dilakukan CKG dimana dilakukannya pemeriksaan pada tekanan darah, indeks massa tubuh (IMT), dan skrining kesehatan dasar lainnya. Kegiatan ini menjadi langkah nyata promotif-preventif untuk mencegah masalah kesehatan fisik dan mental sejak dini.

Kegiatan diawali dengan sambutan oleh Kepala Sekolah SMPK Santa Maria, serta Perwakilan dari Balai Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kab Magelang, dan Puskesmas Sawangan I. Dilanjutkan dengan pemaparan materi tentang kesehatan jiwa oleh wakil DPRD Provinsi Jawa Tengah secara daring via zoom meeting. Selanjutnya siswa siswi mengikuti Pemeriksaan Kesehatan mencakup status gizi, tekanan darah, mata, telinga, gigi, skrining anemia, yang dilaksanakan oleh tenaga medis dari Puskesmas Sawangan I dan Balkesmas.

Dalam pelaksanaanya, penyuluhan tentang Kesehatan Jiwa dan CKG diharapkan dapat meningkatkan literasi kesehatan jiwa pada siswa. Sehingga mereka dapat mengenali gejala awal gangguan mental, mendorong perilaku hidup sehat, menguatkan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan institusi pendidikan. Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang bersama Balkesmas dan Puskesmas akan terus bersinergi dalam menghadirkan program kesehatan yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa.

Penyuluhan Kesehatan Jiwa dan Cek Kesehatan Gratis di MA P Diponegoro Salaman

MAGELANG – Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap masalah kesehatan jiwa akibat tekanan akademik, sosial, maupun lingkungan. Selain itu, kesehatan fisik juga perlu diperhatikan sebagai penunjang tumbuh kembang optimal. Oleh karena itu, dalam upaya meningkatan derajat kesehatan masyarakat khususnya pada usia remaja perlu dilakukan berbagai program promotif dan preventif kesehatan. Penyuluhan kesehatan jiwa dan pemeriksaan kesehatan gratis di sekolah menjadi langkah penting untuk mendeteksi dini masalah kesehatan sekaligus meningkatkan literasi kesehatan pada generasi muda.

Dalam hal ini Balai Kesehatan Masyarakat beserta Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang, Puskesmas Salaman I dan pihak Sekolah MA P Diponegoro melakukan kolaborasi untuk melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan jiwa dan cek kesehatan gratis (CKG) anak sekolah. Kegiatan ini yang dilaksanakan di aula MA P Diponegoro Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah pada hari Kamis 11 September 2025 pukul 08.30 WIB. Pelaksanaan kegiatan meliputi penyuluhan Kesehatan jiwa bagi siswa siswi kelas 11 dan 12, serta pelayanan cek kesehatan gratis. Penyuluhan Kesehatan jiwa difokuskan pada pemahaman mengenai kesehatan mental, cara mengelola stres, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan psikologis. Sementara pelayanan CKG mencakup pemeriksaan tekanan darah, berat badan, tinggi badan, dan konsultasi kesehatan dasar.

Kegiatan diawali dengan sambutan oleh kepala sekolah MA P Diponegoro, serta Perwakilan dari Balai Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kab Magelang, dan Puskesmas Salaman I. Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi kesehatan jiwa oleh wakil DPRD Prov Jawa Tengah secara daring via zoom meeting. Setelah pemaparan materi selesai selanjutnya siswa siswi mengikuti pemeriksaan kesehatan mencakup status gizi, tekanan darah, mata, telinga, gigi, skrining anemia, yang dilaksanakan oleh tenaga medis dari Puskesmas Salaman I dan Balkesmas.

Dalam pelaksanaan penyuluhan tentang Kesehatan Jiwa dan CKG diharapkan siswa siswi MA P Diponegoro Salaman lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan jiwa dan fisik, serta mampu menerapkan perilaku hidup sehat di sekolah maupun di rumah. Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang bersama Balkesmas dan Puskesmas akan terus bersinergi dalam menghadirkan program kesehatan yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa.

Sri Ratnani Khasanah “Mbak Nana” Juara 1 Tenaga Kesehatan Teladan Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2025.

Sri Ratnani Khasanah,S.Kep., Ners. – Puskesmas Mungkid Kab. Magelang

Sri Ratnani Khasanah “Mbak Nana” Juara 1 Tenaga Kesehatan Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2025.

Untuk memberikan apresiasi dan motivasi kepada tenaga kesehatan yang berprestasi, serta mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan inovasi Dinas kesehatan Provinsi Jawa Tengah mengadakan lomba tenaga medis dan tenaga kesehatan teladan tingkat Provinsi tahun 2025.

Sri Ratnani Khasanah, S.Kep., Ners (Perawat Puskesmas Mungkid Kabupaten Magelang) berhasil meraih Peringkat 1 Tenaga Kesehatan Teladan Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2025 dengan Kategori Tenaga Kesehatan inovatif di Puskemas. Inovasi yang diusung Mbak Nana adalah Komitmen Peduli Kesehatan Jiwa Supaya Masyarakat Aman Tentram Bahagia atau disingkat menjadi “Kopi Siji Ben Manteb”. Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang memberikan apresiasi yang setinggi-tingginnya atas prestasi yang sudah dicapai, harapannya bisa memicu tenaga kesehatan lainnya di Kab. Magelang untuk melakukan inovasi bidang kesehatan.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Komjen Pol (Purn) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K. pada upacara peringatan Hari Ulang Tahun Jawa Tengah ke 80 tgl 19 Agustus 2025 di lapangan Kawasan Industri Terpadu Batang didampingi Tim Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang.

Sosialisasi dan Evaluasi Kematangan Inovasi di Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang

Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Evaluasi Kematangan Inovasi yang diikuti oleh jajaran internal Dinas Kesehatan, Kepala Puskesmas se-Kabupaten Magelang, Kepala Instalasi Farmasi, Kepala Labkesmas serta Bappeda dan Litbangda Kabupaten Magelang. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat komitmen bersama dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas inovasi di bidang kesehatan, sejalan dengan tuntutan transformasi layanan primer dan transformasi teknologi kesehatan.

Acara dibuka secara resmi oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang, dr. Oktora Kunto Edhy, M.M.  Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya menciptakan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta mendukung efektivitas dan efisiensi pelayanan kesehatan. Inovasi bukan sekadar ide, namun harus menjadi solusi nyata untuk memudahkan pelayanan dan meningkatkan kualitas kerja.

Dalam kesempatan ini, Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Bapak Sakir, S.Sos mengingatkan bahwa di tengah keterbatasan anggaran, sumber daya manusia, waktu serta tantangan yang semakin kompleks, inovasi menjadi kunci keberhasilan dalam pembangunan kesehatan daerah. Menurutnya keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi, justru menjadi pemicu untuk berpikir kreatif dan mencari terobosan.

Berdasarkan hasil inventarisasi, tercatat sebanyak 52 inovasi di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang dengan tingkat kematangan yang bervariasi. Inovasi-inovasi tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan dan direplikasi sehingga memberikan manfaat nyata bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh unit kerja di lingkungan Dinas Kesehatan dan Puskesmas semakin termotivasi untuk mengembangkan inovasi yang relevan, adaptif, dan berkelanjutan demi meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Magelang.

KICK OFF CEK KESEHATAN GRATIS ANAK SEKOLAH

KICK OFF CEK KESEHATAN GRATIS ANAK SEKOLAH